Sejarah Singkat

Pendidikan merupakan komponen yang memiliki peran yang strategis bagi bangsa Indonesia dalam mewujudkan tujuan yang telah dirumuskan. Salah satu tujuan bangsa Indonesia yang tertuang dalam pembukuan UUD 1945 adalah “mencerdaskan kehidupan bangsa” untuk mewujudkan hal tersebut dibutuhkan usaha yang terencana dan terprogram dengan jelas dalam agenda pemerintahan yang berupa penyelenggaraan pendidikan.

Tujuan pendidikan negara Indonesia yang tertuang dalam UU Republik Indonesia no. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kebribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta ketrampilan yang di perlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Agar kegiatan pendidikan tersebut terencana dengan baik, maka dibutuhkan  kurikulum pendidikan. Karena itulah didirikan MTs. Al-Mustaqim sebagai wujud atas pemberian sumbangsih terhadap pendidikan yang digalakkan pemerintah selama ini. Di samping itu juga telah berdiri pesantren Al-Mustaqim untuk memberikan sebuah manifesto terhadap umat, untuk membangun manusia muslim Indonesia yang di samping berkompeten dalam bidang sosial, teknologi, juga berkompeten dalam bidang keagamaan.

Awal dari pendidikan di desa Bugel ini adalah sekitar tahun 1925, beliau KH. Ali Mardam merintis sebuah surau (mushola) kecil yang sekarang ini menjadi Ponpes. Al-Mustaqim. Dengan kegigihan ketulusan beliau serta keikhlasannya mulai menjadi besar. Mula-mula hanya satu murid kampung yang rumahnya tak jauh dari surau, namun lama-lama meski tidak begitu banyak surau ini ramai dengan murid (santri). Disamping suksesnya kyai, tak lupa disitulah ada pendamping yang hebat, beliau adalah Hj. Muslimah yang mendukung perjuangan si mbah KH. Ali Mardam segala daya upaya di curahkan oleh mbah yai dan bu nyai ini untuk menghidupkan surau tersebut baik dari segi financial (keuangan) maupun tenaga.

KH. Ali Mardam dan Hj. Muslimah dikaruniai 6 orang putra dan semua telah meninggal hanya tersisa KH. Muhsin Ali, yang beliau sedari kecil, bahkan semasa dalam kandungan sudah ditinggal mati ayahnya (KH. Ali Mardam) dan ditangannya lah surau kecil ini menjadi pondok pesantren Al-Mustaqim seperti yang sekarang ini, Muhsin Ali kecil sudah merasakan pahitnya kehidupan, karena yatim, lebih-lebih ekonomi keluarga waktu itu tidak cukup untuk menopang pendidikannya. Oleh karenanya suatu hari terbesit hatinya untuk mondok, mula-mula ia nyantri kepada KH. Abdullah Zain Salam dan di Matholi’ul Falah Kajen Pati. Kemudian pindah nyantri ke Pondowan Pati  yang di asuh oleh KH. Muhammadun Ali Murtadlo, setelah lama menimba ilmu dari gurunya beliau pulang pada tahun 1963, untuk mengabdikan ilmunya kepada masyarakat.

Ketika beliau (KH.Muhsin Ali) sudah berdomisili di bugel, beliau mulai merintis surau tersebut agar punya santri. Pada saat itu hanya sekitar 7 orang santri , namun surau tersebut hanya di buat tempat tidur dan tidak aktif unuk dibuat sholat, serta mushola tersebut bernama mushola “Al Firdaus” yang artinya surga firdaus, kontan saja di benak KH. Muhsin Ali berasumsi santri-santrinya hanya tidur saja karena mereka di surga, dan untuk menanggulangi hal itu maka digantilah nama Al firdaus dengan Al-Mustaqim. Di sini KH. Muhsin Ali melatih rebana dan memberikan rebana untuk supaya santri lebih giat dan mushola lebih hidup dan beliau juga mengajarkan nasyid dengan alat ala kadarnya. Al-Mustaqim dibawah asuhan KH. Muhsin Ali semakin lama semakin besar, seperti yang terlihat sekarang ini. Pada tahun 2005 pengasuh pergi menunaikan ibadah Haji. di Madinah, beliau mellihat ungkapan sebuah gapura yang bertuliskan  بستان القران والكتب السلفية di situlah pengasuh terbesit ide dan cita-cita (himmah) bahwa Al-Mustaqim akan direalisasikan seperti yang beliau bersitkan di hatinya, kemudian beliau merintis pembangunan MTs. Al-Mustaqim Yayasan Muhsin Ali Bustanul Qur’an dan Kutub As Salafiyah. Alhamdulillah dengan ijin Allah dapat terealisasikan seperti sekarang ini yang ciri khas kader Al-Mustaqim di kedepankan ber brand salaf dan Al-Qur’an sehingga berbeda dengan sekolah di jepara ini terlebih di bugel kecamatan kedung. Yayasan Muhsin Ali menaungi pondok pesantren, Madin, MTs, MA, TPQ  yang sekarang ini sedang dalam perkembanganya. Akhirnya pada Allah lah kami berpasrah diri dan tawakkal.