Bersama Melalui Rintangan

Assalamualaikum …

              Cerita ini bermula, pada suatu hari hiduplah seorang anak yang bernama Jeksen, ia murid yang kurang pandai di sekolah, ia duduk di bangku SMA kelas 11, dan ayahnya bernama Bapak Budi dan ibunya yang bernama Ibu Siti, mereka hidup dengan bahagia. Ketika disekolah Jeksen bertemu dengan sahabatnya yang bernama Wildan, ia sahabat yang baik dan ia menerima Jeksen apa adanya, ketika mereka berjalan di sekolah, mereka bertemu dengan para geng anak yang sangat nakal yaitu geng (Devil) yang beranggotakan 4 anak, yaitu Alex, Tio, Rev, dan Leo, mereka sekelas dengan Jeksen, mereka ber empat Ketika Jeksen lewat dengan Wildan, Jeksen diejek dan dihina di depan Wildan si sahabat, Jeksen membiarkan mereka dan tidak membalasnya. Dan geng tersebut ditegur oleh wali kelasnya yang bernama bapak Agus. Ketika berjalan bersamaan dengan kepala sekolah mereka yang bernama bapak Abdullah. Mereka juga dimarahi oleh kepala sekolahnya.

             Keesokan harinya Jeksen berangkat ke sekolah, dia berpamitan dengan kedua orang tuanya “Saya pergi ke sekolah dulu,” kata Jeksen kepada orang tuanya kedua orang tuanya. “Hati-hati ya nak,” ujar kedua orang tua Jeksen untuk menasehati dia.  “Iya,” jawab si jeksen. Ia langsung berangkat kesekolah dengan berjalan kaki. Ia menghampiri Wildan “Hai Wildan,” sapa Jeksen. “Hai Jeksen,” jawab Wildan. “Ayo berangkat kesekolah dengan ku,” kata Jeksen untuk mengajak Wildan “Boleh,” jawab si Wildan. Mereka berangkat bersama, sesampainya di sekolah, mereka masuk ke ruang kelas, Jeksen keluar untuk bermain di luar kelas, sedangkan si Wildan belajar didalam kelas. Bel masuk pun berbunyi, mereka yang berada di luar kelas pun masuk kedalam kelas, mereka memulai pembelajaran, ketika jam ke-3 si Jeksen tertidur sampai jam ke-4, kemudian ia dibangunkan oleh Wildan “Jeksen bangun,” ujar Wildan untuk membangunkan Jeksen. ketika bangun terlihat air liur yang keluar dari mulut si Jeksen seperti air terjun yang deras, Jeksen pun terkejut “Ada apa,” jawab si Jeksen dengan perasaan yang sangat kaget. “Bangun ini waktu Pelajaran, kamu jangan tidur,” ujar Wildan. Mereka melanjutkan Pelajaran sampai bel istirahat berbunyi.

               Pada saat jam istirahat Jeksen dan Wildan pergi untuk membeli makanan dan minuman, setelah itu mereka berjalan ke kelas, ketika mereka hendak masuk ke dalam kelas mereka dihadapi dengan gengnya Alex dan kawan-kawannya. “Berikan makanan dan minumanmu,” ujar Alex dan langsung mengambil makanan dan minuman si Jeksen. Alex pun menyuruh teman-temannya untuk memukuli Jeksen “Pukuli dia,” suruh Alex. Si Jeksen dipukuli oleh teman-teman Alex. Si Wildan mencoba untuk melerai mereka “Sudah, kalian jangan memukuli Jeksen, kasian dia,” ujar Wildan untuk memisahkan mereka. Mereka pun berpisah dan Alex dengan kawan-kawannya pun pergi.

               Wildan memeriksa keadaan Jeksen setelah dipukul oleh teman-teman Alex “Bagaimana keadaanmu, apa ada yang terluka?” tanya si Wildan. “Aku baik-baik saja hanya sedikit memar,” jawab si Jeksen dengan menunjukkan tangannya yang memar karena pukulan teman-teman Alex. Si Wildan merasa lega setelah mendengarnya “Yasudah kalau hanya memar,” jawab Wildan. Lalu membantu Jeksen untuk berdiri dan mengajaknya untuk masuk kedalam kelas.

                Di kelas Wildan membagi makanan dan minuman dengan Jeksen “ini makanan dan minuman untukmu,” ujar Wildan.   Si Jeksen menjawab “Terimakasih ya Wildan,” jawab si Jeksen. Mereka makan bersama, lalu mereka memulai pembelajaran sampai bel pulang berbunyi, mereka pun pulang bersama.

                Kemudian saat mereka pulang sekolah Jeksen, bertanya kepada Wildan “Bagaimana cara supaya menjadi pintar seperti kamu?” tanya Jeksen. “Kamu harus belajar bersungguh-sungguh dan istiqomah dalam belajar,” jawab si Wildan. “Kalau begitu saya akan berusaha,” ujar Jeksen. “Aku yakin kamu pasti bisa” ujar Wildan. Untuk menyemangati Jeksen. Si Jeksen menjawabnya “Terimakasih sudah menyemangatiku,” jawab Jeksen. “Sama-sama Jeksen,” jawab Wildan dengan senang. Mereka pun pulang ke rumah masing-masing.

               Sehabis pulang sekolah. Jeksen langsung mengambil buku kemudian belajar dengan giat karena ia ingin berubah menjadi lebih baik. “Aku belajar supaya menjadi diriku yang lebih baik,” kata Jeksen di dalam hati untuk menyemangati dirinya. Setelah itu ia belajar dari sesudah melaksanakan sholat isya’ sampai larut malam, ia sampai ketiduran, ibunya menbagunkannya untuk tidur di tempat tidur “Jeksen bangunlah, pindah ke tempat tidur situ,” ujar ibunya, si Jeksen terbangun dan langsung pindah ke tempat tidur.

                 Ketika tidur ia bermimpi. Dia belajar dengan giat dan disekolah ia menjadi anak yang disukai para guru-guru di sekolah, ia menjadi anak yang pintar di sekolah, ia mendapatkan peringkat ke-2, yaitu setelah Wildan. Ia sangat senang di sana dan orang tuanya juga bangga, dan ia merasa sangat puas dengan hasil usahanya sendiri.

                Saat itu seketika Jeksen terbangun dari tidurnya karena mendengar adzan subuh, lalu ia pergi sholat berjamaah di masjid dengan orang tuanya, setelah sholat ia langsung mandi, setelah ia mandi, ia menyempatkan untuk belajar beberapa saat setelah itu ia bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah, sebelum pergi ke sekolah ia bersalaman dengan kedua orang tuanya, Jeksen pun berangkat, dia pegi ke rumah Wildan untuk untuk mengajak Wildan berangkat bersamanya, ia bertemu dengan Wildan yang sedang bersalaman dengan orang tuanya, setelah itu Wildan menghampiri Jeksen, pada saat itu Jeksen mengajak Wildan untuk berangkat bersamanya “Ayo berangkat bersamaku,” kata Jeksen kepada Wildan. “Boleh,” jawab Wildan. Mereka pun berangkat bersama.

                 Sesampainya di sekolah, mereka langsung masuk kedalam kelas “Ayo langsung masuk kedalam kelas,” ujar Wildan. Jeksen menjawab “Ayo,” jawab si Jeksen. Mereka pun masuk kedalam kelas, Jeksen langsung belajar bersama dengan Wildan, tapi Wildan merasa aneh dengan perubahan sifat si Jeksen ia pun bertanya “Tumben kamu langsung belajar?” tanya Wildan dengan rasa penasaran. Jeksen menjawab “Aku ingin menjadi pintar,” jawab Jeksen. Mereka pun belajar bersama sampai bel masuk berbunyi, mereka memulai pembelajaran sampai bel istirahat berbunyi, ketika istirahat, Wildan mengajak Jeksen untuk pergi membeli makanan dan minuman “Ayo pergi ke kantin membeli makanan dan minuman,” kata Wildan untuk mengajak Jeksen. Tetapi Jeksen tidak mau “Tidak, aku ingin belajar saja,” kata Jeksen dengan membaca buku. Lalu Wildan pergi ke kantin untuk membeli makanan dan minuman, ia juga membelikan makanan dan minuman kepada Jeksen, dan ia langsung kembali ke kelas.

                 Sesudahnya ia membeli makanan dan minuman kemudian ia pergi kedalam kelas. ia langsung meberikannya kepada Jeksen “Ini makanan dan minuman untukmu yang tidak seberapa ini,” ujar widan. Jeksen pun merasa senang dengan apa yang diberikan Wildan kepadanya “Terimakasih Wildan, atas apa yang kamu beriakan,” kata si Jeksen. Mereka pun memakan dan meminum minuman mereka bersama, ketika waktu istirahat sudah usai, mereka memulai pembelajaran kembali sampai pembelajaran yang terakhir, bel pulang pun berbunyi mereka pulang bersama, mereka berjalan kaki bersama, mereka pun berpisah satu sama lain “Aku pulang dulu,” ujar Wildan kepada Jeksen. Jeksen pun menjawab “Aku juga. Sampai jumpa lain kali,” ujar Jeksen. Mereka pun berpisah.

                Setelah berbulan-bulan, sudah memasuki akhir tahun ajaran dan pengumuman siswa-siswi berprestasi diumumkan, dan saatnya kelas Jeksen. Bapak kepala sekolah berkata “peringkat ke-2 diraih oleh Jeksen,” ujar bapak kepala sekolah. Suara tersebut membuat Jeksen serasa tidak percaya. Dari dia yang dulunya kurang pintar sekarang ia menjadi peringkat ke-2 dari 30 siswa-siswi, dan bapak kepala sekolah berkata “peringkat pertama diraih oleh Wildan,” ujar bapak kepala sekolah. Mereka berdua pun senang, mereka berkata “semoga tahun depan kita dapat mempertahan kan prestasi ini,” ujar mereka berdua. Mereka disukai para guru-guru yang mengajar di sana karena kepintaran dan kesopanan mereka.

               Kesimpulannya kita harus belajar agar tidak menjadi orang yang bodoh, kita harus belajar walaupun sedikit. Tetapi belajar juga diimbangin dengan akhlak yang baik sesungguhnya sopan santun itu di atas ilmu, karena ilmu adalah perang bagi pemuda yang meninggi, ibarat seperti banjir itu perang bagi tempat yang tinggi, karena ilmu itu harus di bawah akhlak. Maka ilmu itu tidak diperoleh kecuali dengan menundukkan diri (tawadhu’) dan menggunakan pendengaran. Bukan dari akhlak mu’min itu merendahkan diri kecuali dalam mencari ilmu. Maka kalian harus tawadhu’ dan bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu. Dalam pergaulan, kita harus pandai-pandai untuk memilih teman, agar kita tidak disesatkan oleh mereka yang sesat seperti merundung teman. Inti dari kesimpulan cerita ini adalah. Jadilah orang yang rajin berlajar dan sopan satun yang tinggi. Dan pandai dalam mencari teman yang berguna bagi kita.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *